![]() |
| Tumpukan sampah di halaman kantor Bupati Pohuwato. (Foto istimewa) |
POHUWATO, Jaringnews.id — Ini bukan sekadar gangguan penciuman. Ini adalah skandal kebersihan yang mencoreng wajah pemerintahan dari titik paling sakralnya sendiri.
Di kawasan Kantor Bupati Pohuwato, bau menyengat menyeruak tanpa ampun. Tajam, menusuk, dan memuakkan—aroma yang tak ubahnya bangkai membusuk. Sumbernya jelas, terlihat, dan tak bisa lagi ditutupi: tumpukan sampah yang menggunung, dibiarkan membusuk di pagar hingga halaman pusat administrasi daerah.
Ironinya, lokasi ini seharusnya menjadi simbol ketertiban dan standar tertinggi tata kelola. Namun yang tampak justru sebaliknya—kekumuhan yang dibiarkan tumbuh, seolah tanpa pemilik dan tanpa tanggung jawab.
Sorotan publik pun tak bisa dihindari, terutama kepada Dinas Lingkungan Hidup. Lembaga yang semestinya berdiri di garis depan menjaga kebersihan, justru diduga gagal menjalankan fungsi paling mendasar. Alih-alih menjadi solusi, kawasan vital pemerintahan malah berubah menjadi titik penumpukan sampah. Ini bukan sekadar kelalaian—ini kegagalan yang nyata.
Kantor Bupati bukan hanya bangunan birokrasi. Ia adalah simbol kehormatan daerah, wajah resmi pemerintah, dan cermin kualitas tata kelola. Dari tempat inilah publik menilai keseriusan pemerintah dalam mengurus wilayahnya.
Dan hari ini, yang terpampang adalah gambaran yang memalukan: kotor, semrawut, dan tak terkendali.
Kemarahan warga pun tak lagi bisa dibendung. Bau busuk yang menyebar bukan hanya mencemari udara, tapi juga mengikis kepercayaan.
“Kalau kantor bupati saja seperti ini, apa yang bisa diharapkan dari tempat lain?” keluh seorang warga, dengan nada yang mencerminkan kekecewaan luas.
Masalah ini melampaui urusan sampah. Ini adalah potret lemahnya pengawasan, rendahnya standar kerja, dan absennya keseriusan dalam mengelola hal paling dasar: kebersihan lingkungan sendiri.
Pemerintah tak lagi punya ruang untuk retorika.
Bagaimana mungkin berbicara tentang tata kelola yang baik jika halaman kantor sendiri tak terurus?
Bagaimana mungkin membangun citra daerah jika pusat kekuasaan justru memancarkan kesan kumuh?
Fakta kini berdiri telanjang. Tak ada lagi yang bisa disangkal. Tak ada lagi ruang untuk menghindar.
Publik tidak menunggu klarifikasi. Tidak butuh janji. Yang dituntut hanya satu: tindakan nyata. Bersihkan sekarang. Benahi segera.
Jika tidak, bersiaplah menghadapi cap yang akan melekat lama.
Pohuwato, daerah yang gagal menjaga kehormatan halaman rumahnya sendiri.
Red//RC


